Jadwal Buka : Setiap Hari Pagi: 06.00 - 13.00, Siang: 14.00 - 20.00

0263 513513

ARTIKEL

Beranda / Artikel

Menata Niat dan Rutinitas Menjelang Bulan Puasa

Kesehatan - 4 Hari Lalu Oleh Diaz

11 Kali Dibaca

Halo Fam,
pernah nggak sih merasa Ramadan datang terlalu cepat, sementara diri kita masih terseok dengan rutinitas yang berantakan? Baru niat mau siap-siap, eh tiba-tiba sudah hari pertama puasa. Padahal, menata niat dan rutinitas menjelang bulan puasa itu bukan cuma soal ibadah, tapi juga tentang menyiapkan diri secara utuh. Dari hati, pikiran, sampai kebiasaan harian yang sering kita anggap sepele.

Menjelang bulan puasa, niat sering kali jadi hal pertama yang terucap, tapi justru paling cepat terlupakan. Banyak dari kita berniat ingin Ramadan kali ini lebih baik, lebih khusyuk, lebih bermakna. Namun tanpa disadari, niat itu tidak diiringi dengan perubahan kecil dalam rutinitas. Akhirnya, puasa tetap dijalani, tapi rasa lelah, emosi yang naik turun, dan ibadah yang terasa terburu-buru masih jadi cerita tahunan. Di sinilah pentingnya memahami bahwa menata niat bukan sekadar di awal, tapi harus dijaga dan dirawat setiap hari.

Menata niat berarti jujur pada diri sendiri. Bukan soal target besar yang muluk, melainkan kesadaran sederhana tentang apa yang ingin kita perbaiki. Mungkin ingin lebih sabar, lebih peduli pada tubuh, atau lebih hadir saat beribadah. Saat niat itu jelas, rutinitas harian akan lebih mudah diarahkan. Bangun tidur tidak lagi sekadar mengejar aktivitas, tapi menjadi bagian dari proses mempersiapkan diri menyambut Ramadan dengan lebih tenang.

Rutinitas sehari-hari punya peran besar dalam menyambut bulan puasa. Pola tidur, pola makan, dan cara kita mengelola waktu sangat menentukan kualitas puasa nantinya. Jika sebelum Ramadan kita terbiasa begadang tanpa alasan jelas, bangun siang, dan makan tidak teratur, tubuh akan “kaget” saat puasa dimulai. Itulah mengapa, jauh sebelum Ramadan tiba, tubuh perlu diajak beradaptasi secara perlahan. Tidur lebih teratur, mengurangi kebiasaan makan berlebihan, dan mulai mengenali batas kemampuan diri adalah bentuk kepedulian yang sering terlupakan.

Selain fisik, rutinitas mental juga penting, Fam. Pikiran yang terlalu penuh dengan distraksi membuat ibadah terasa berat. Menjelang bulan puasa, cobalah memberi ruang jeda. Mengurangi paparan informasi yang tidak perlu, meluangkan waktu untuk refleksi, atau sekadar duduk tenang tanpa gawai bisa membantu menenangkan batin. Kebiasaan kecil ini akan sangat terasa manfaatnya saat Ramadan, ketika energi kita perlu dibagi antara aktivitas harian dan ibadah.

Menata niat dan rutinitas menjelang bulan puasa juga berarti belajar mengatur ekspektasi. Tidak semua hari akan sempurna, dan itu tidak apa-apa. Ramadan bukan tentang menjadi manusia tanpa lelah, tetapi tentang kesadaran untuk terus kembali pada niat awal. Saat rutinitas terasa kacau, mengingat kembali tujuan berpuasa dapat menjadi jangkar yang menenangkan. Dalam Islam sendiri, niat memiliki posisi penting sebagai penentu arah amal, sebagaimana dijelaskan dalam berbagai kajian keislaman yang bisa Fam baca di situs resmi seperti Kementerian Agama Republik Indonesia https://kemenag.go.id.

Dari sisi kesehatan, persiapan menjelang puasa juga sejalan dengan prinsip hidup seimbang. Banyak ahli kesehatan menyarankan penyesuaian pola hidup sebelum puasa agar tubuh tidak mengalami stres berlebihan. Organisasi kesehatan dunia pun menekankan pentingnya pola makan seimbang dan istirahat cukup untuk menjaga daya tahan tubuh https://www.who.int. Hal ini menunjukkan bahwa persiapan Ramadan bukan hanya soal spiritual, tapi juga tentang merawat amanah tubuh yang kita miliki.

Yang sering terlupa, menata rutinitas tidak harus ekstrem. Tidak perlu langsung mengubah semuanya dalam semalam. Justru perubahan kecil yang konsisten jauh lebih bertahan lama. Misalnya, mulai tidur 30 menit lebih awal, memperbanyak minum air putih, atau meluangkan waktu singkat untuk evaluasi diri setiap malam. Rutinitas sederhana ini akan membentuk irama baru yang lebih ramah saat Ramadan tiba.

Pada akhirnya, Fam, menata niat dan rutinitas menjelang bulan puasa adalah proses menyelaraskan hati, tubuh, dan keseharian. Ramadan akan tetap datang, cepat atau lambat. Yang bisa kita siapkan adalah cara menyambutnya. Dengan niat yang jujur dan rutinitas yang lebih tertata, bulan puasa tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan sebagai ruang untuk pulang pada diri sendiri. Dan ketika Ramadan berakhir, kebiasaan baik itu semoga tidak ikut pergi, tapi justru menjadi bekal untuk hari-hari setelahnya.


Bagikan Artikel Ini