Jadwal Buka : Setiap Hari Pagi: 06.00 - 13.00, Siang: 14.00 - 20.00

0263 513513

ARTIKEL

Beranda / Artikel

Cacar Air - Gejala, Penyebab, dan Mengobati

Jaminan Kesehatan Nasional/BPJS - 21 Oct 2024 Oleh Diaz

5.484 Kali Dibaca

Cacar air, atau varicella, adalah infeksi virus yang sangat menular yang disebabkan oleh virus varicella-zoster. Penyakit ini umumnya menyerang anak-anak, tetapi orang dewasa juga bisa tertular, terutama jika belum pernah terkena cacar air sebelumnya atau belum divaksinasi. Meskipun cacar air biasanya merupakan penyakit ringan, pada beberapa kasus, komplikasi serius dapat terjadi. Artikel ini akan membahas gejala, penyebab, serta cara mengobati cacar air.

Gejala Cacar Air

Gejala cacar air biasanya mulai muncul 10-21 hari setelah terpapar virus. Gejala yang umum termasuk:

  1. Ruam kulit
    Ciri khas cacar air adalah munculnya ruam merah yang gatal. Ruam ini awalnya berbentuk bintik merah kecil, kemudian berubah menjadi lepuh berisi cairan (vesikel). Setelah beberapa hari, lepuh tersebut pecah dan mengering, membentuk kerak.

  2. Demam
    Sebelum atau saat ruam muncul, penderita biasanya mengalami demam ringan hingga tinggi.

  3. Rasa lelah dan tidak enak badan
    Penderita cacar air sering merasa lelah, lemah, dan tidak nyaman secara umum.

  4. Sakit kepala
    Beberapa orang juga mungkin mengalami sakit kepala ringan.

  5. Kehilangan nafsu makan
    Kehilangan nafsu makan adalah salah satu gejala yang kerap terjadi selama infeksi.

Ruam cacar air biasanya muncul pertama kali di wajah, dada, dan punggung, lalu menyebar ke seluruh tubuh. Pada kasus yang parah, ruam bisa menyebar hingga ke mulut, kelopak mata, atau area genital.

Penyebab Cacar Air

Cacar air disebabkan oleh virus varicella-zoster, yang menyebar dengan mudah dari orang ke orang melalui:

  • Kontak langsung dengan lepuhan atau cairan cacar air.
  • Percikan air liur dari batuk atau bersin penderita yang terinfeksi.
  • Kontaminasi benda yang telah tersentuh oleh penderita, kemudian menyentuh mata, hidung, atau mulut.

Seseorang bisa menularkan cacar air mulai dari 1-2 hari sebelum ruam muncul hingga semua lepuhan mengering dan berkerak. Oleh karena itu, penting untuk menghindari kontak dengan orang yang terinfeksi selama masa penularan.

Cara Mengobati Cacar Air

Pada kebanyakan kasus, cacar air sembuh dengan sendirinya dalam waktu 1-2 minggu. Meskipun tidak ada pengobatan khusus yang bisa menyembuhkan cacar air, beberapa langkah berikut bisa membantu meredakan gejala dan mencegah komplikasi:

  1. Istirahat yang cukup
    Penderita disarankan untuk banyak istirahat guna membantu tubuh melawan infeksi.

  2. Konsumsi cairan yang cukup
    Minum banyak air putih untuk mencegah dehidrasi, terutama jika demam tinggi.

  3. Obat pereda gatal
    Obat antihistamin seperti diphenhydramine dapat membantu mengurangi rasa gatal. Losion kalamin juga bisa dioleskan pada ruam untuk mengurangi ketidaknyamanan.

  4. Obat penurun demam
    Parasetamol dapat digunakan untuk menurunkan demam dan mengurangi rasa sakit. Namun, aspirin tidak boleh diberikan kepada anak-anak dengan cacar air karena dapat menyebabkan sindrom Reye, kondisi langka tetapi serius yang mempengaruhi hati dan otak.

  5. Hindari menggaruk ruam
    Menggaruk ruam bisa menyebabkan infeksi bakteri sekunder atau meninggalkan bekas luka. Potong kuku dan gunakan sarung tangan pada anak-anak yang mengalami cacar air untuk mencegah garukan saat tidur.

  6. Pengobatan antivirus
    Dalam kasus tertentu, terutama bagi orang dewasa atau individu dengan sistem kekebalan yang lemah, dokter mungkin meresepkan obat antivirus seperti asiklovir. Obat ini bisa membantu mengurangi keparahan dan durasi cacar air jika diberikan pada tahap awal penyakit.

Pencegahan Cacar Air

Cara terbaik untuk mencegah cacar air adalah dengan vaksinasi. Vaksin varicella efektif dalam mencegah infeksi cacar air dan sangat dianjurkan untuk anak-anak dan orang dewasa yang belum pernah terkena atau belum divaksinasi. Langkah-langkah pencegahan lainnya meliputi:

  1. Vaksinasi
    Vaksin cacar air biasanya diberikan dalam dua dosis:
    • Dosis pertama pada usia 12-15 bulan.
    • Dosis kedua pada usia 4-6 tahun.

Orang dewasa yang belum pernah divaksinasi dan belum pernah terkena cacar air juga disarankan untuk mendapatkan vaksin, terutama jika mereka memiliki risiko tinggi terpapar virus.

  1. Isolasi penderita
    Jika seseorang terkena cacar air, sebaiknya tetap di rumah dan hindari kontak dengan orang lain hingga semua lepuhan mengering untuk mencegah penyebaran virus.

  2. Hindari kontak dengan penderita cacar air
    Orang yang belum memiliki kekebalan terhadap cacar air sebaiknya menghindari kontak dengan penderita cacar air atau herpes zoster (yang juga disebabkan oleh virus yang sama).

Komplikasi Cacar Air

Meskipun cacar air umumnya dianggap sebagai penyakit ringan, komplikasi bisa terjadi, terutama pada bayi, orang dewasa, ibu hamil, atau mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah. Beberapa komplikasi yang bisa timbul antara lain:

  1. Infeksi bakteri pada kulit
    Ruam cacar air yang terinfeksi bakteri bisa menyebabkan kondisi yang lebih serius, seperti selulitis.

  2. Pneumonia
    Pada orang dewasa, terutama perokok atau mereka yang memiliki sistem kekebalan yang lemah, infeksi paru-paru (pneumonia) bisa terjadi.

  3. Ensefalitis
    Peradangan otak ini jarang terjadi, tetapi bisa menjadi komplikasi serius dari cacar air, yang mempengaruhi fungsi neurologis.

  4. Sindrom Reye
    Pada anak-anak, penggunaan aspirin saat menderita cacar air dapat menyebabkan sindrom Reye, kondisi yang menyerang hati dan otak.

  5. Cacar air kongenital
    Pada ibu hamil, infeksi cacar air dapat menyebabkan cacar air kongenital pada bayi, yang dapat mengakibatkan kelainan lahir.

Cacar air adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus varicella-zoster. Meskipun umumnya sembuh dengan sendirinya, penting untuk mengenali gejala dan memberikan perawatan yang tepat untuk mencegah komplikasi. Vaksinasi adalah cara paling efektif untuk melindungi diri dari cacar air, dan bagi yang terkena penyakit ini, isolasi dan perawatan yang baik dapat mempercepat pemulihan.


Bagikan Artikel Ini