Jadwal Buka : Setiap Hari Pagi: 06.00 - 13.00, Siang: 14.00 - 20.00

0263 513513

ARTIKEL

Beranda / Artikel

Takut ke Dokter Gigi? Ini Cara Mengurangi Rasa Cemas

Klinik Gigi - 3 Hari Lalu Oleh Diaz

10 Kali Dibaca

Takut ke dokter gigi ternyata bukan hal yang aneh, Fam. Buat sebagian orang, baru membayangkan suara alat gigi, duduk di dental chair, atau melihat jarum anestesi saja sudah bikin jantung berdebar. Rasa takut ini sering disebut sebagai dental anxiety atau kecemasan terhadap perawatan gigi. Kalau kamu termasuk yang sering merasa cemas sebelum periksa, jangan langsung merasa berlebihan. Cara mengurangi rasa takut ke dokter gigi bisa dimulai dari langkah-langkah sederhana yang membuat kamu merasa lebih aman dan punya kendali selama pemeriksaan.

Rasa takut ke dokter gigi bisa muncul karena berbagai alasan. Ada yang pernah mengalami pengalaman perawatan gigi yang kurang menyenangkan, takut merasakan sakit, tidak nyaman dengan suara alat, takut jarum, atau khawatir mendapat diagnosis yang serius. Ada juga yang sebenarnya belum pernah mengalami hal buruk, tetapi sudah merasa takut karena mendengar cerita dari orang lain. Apa pun penyebabnya, rasa cemas tersebut tetap valid dan sebaiknya tidak membuat kamu malu untuk bercerita kepada dokter gigi.

Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah mengakui rasa takut tersebut. Jangan memaksakan diri untuk terlihat berani atau berpura-pura baik-baik saja. Saat membuat janji, kamu bisa langsung memberi tahu petugas bahwa kamu merasa cemas saat ke dokter gigi. Informasi sederhana ini justru dapat membantu tim medis mempersiapkan pendekatan yang lebih nyaman untukmu. Komunikasi antara pasien dan dokter menjadi salah satu hal penting dalam membangun rasa percaya dan mengurangi kecemasan selama perawatan.

Sebelum datang, kamu juga bisa mencari tahu terlebih dahulu apa yang akan dilakukan. Misalnya, kalau kamu dijadwalkan untuk scaling, tanyakan seperti apa prosesnya, berapa lama kira-kira berlangsung, dan apakah ada kemungkinan terasa ngilu. Dengan mengetahui gambaran prosedurnya, pikiran tidak terlalu dipenuhi oleh berbagai kemungkinan yang belum tentu terjadi. Namun, hindari mencari cerita pengalaman buruk secara berlebihan di media sosial karena hal tersebut justru bisa membuat rasa cemas semakin besar.

Fam juga bisa membuat kesepakatan sederhana dengan dokter gigi sebelum tindakan dimulai. Misalnya, sepakati sebuah tanda dengan mengangkat tangan jika kamu merasa tidak nyaman dan ingin dokter berhenti sejenak. Cara ini sederhana, tetapi bisa memberikan rasa kontrol selama perawatan. Kamu jadi tahu bahwa ketika merasa terlalu tegang, kamu memiliki cara untuk memberi tahu dokter tanpa harus berbicara ketika mulut sedang diperiksa.

Selanjutnya, coba atur pernapasan sebelum dan selama pemeriksaan. Saat cemas, kita sering bernapas lebih cepat tanpa sadar. Cobalah menarik napas secara perlahan melalui hidung, tahan sebentar, lalu hembuskan perlahan. Fokus pada ritme napas dapat membantu mengalihkan perhatian dari pikiran yang membuat panik. Teknik pernapasan dan mindfulness juga termasuk strategi yang dapat digunakan untuk membantu mengelola stres dan kecemasan saat kunjungan ke dokter gigi.

Kalau kamu tipe orang yang mudah tegang karena suasana tertentu, kamu juga bisa membawa distraksi sederhana. Misalnya menggunakan earphone untuk mendengarkan musik yang menenangkan jika diperbolehkan, membawa benda kecil untuk diremas, atau mengalihkan perhatian dengan fokus pada pernapasan. Beberapa panduan mengenai kecemasan saat ke dokter gigi juga menyarankan distraksi seperti membaca atau menggunakan perangkat audiovisual selama kunjungan, sesuai dengan kondisi dan izin dari tenaga kesehatan.

Jangan lupa pilih waktu kunjungan yang membuatmu lebih nyaman. Kalau kamu biasanya lebih tenang pada pagi hari dibandingkan sore setelah seharian beraktivitas, kamu bisa mempertimbangkan membuat jadwal di pagi hari. Datang lebih awal juga bisa membantu supaya kamu tidak terburu-buru. Luangkan beberapa menit untuk duduk, mengatur napas, dan menenangkan diri sebelum masuk ruang perawatan.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah memilih dokter gigi dan klinik yang komunikatif. Kamu berhak merasa nyaman saat mendapatkan pelayanan kesehatan. Dokter gigi yang mau mendengarkan kekhawatiran pasien dapat membantu membangun rasa percaya, menjelaskan prosedur dengan bahasa yang mudah dipahami, serta menyesuaikan pendekatan sesuai kebutuhan pasien.

Kalau rasa takutmu sangat kuat sampai membuat kamu terus menunda pemeriksaan, jangan dibiarkan terlalu lama. Menunda perawatan hanya karena takut bisa membuat masalah gigi yang awalnya sederhana menjadi semakin berat. Misalnya, gigi berlubang yang sebenarnya bisa ditangani lebih awal dapat berkembang menjadi masalah yang membutuhkan perawatan lebih kompleks. Jadi, daripada menunggu sampai sakitnya semakin mengganggu, lebih baik mulai dari konsultasi terlebih dahulu. Kamu tidak harus langsung menjalani tindakan jika memang belum siap. Ceritakan kondisi dan rasa takutmu kepada dokter agar bisa didiskusikan langkah yang paling sesuai.

Perlu diingat juga, pemeriksaan ke dokter gigi bukan hanya dilakukan ketika gigi sudah sakit. Pemeriksaan rutin membantu dokter mengetahui kondisi gigi dan mulut lebih awal sehingga masalah dapat ditangani sebelum berkembang. Justru semakin rutin kamu melakukan pemeriksaan, semakin familiar juga kamu dengan suasana klinik dan proses perawatan gigi. Lama-kelamaan, rasa takut yang sebelumnya besar bisa menjadi lebih mudah dikendalikan.

Jadi, Fam, kalau selama ini kamu selalu bilang, “Nanti aja ke dokter gigi, aku takut,” mungkin sekarang saatnya mencoba mengubahnya menjadi, “Aku memang masih takut, tapi aku bisa menghadapinya pelan-pelan.” Mulai dari konsultasi, ceritakan kekhawatiranmu, atur napas, dan komunikasikan batas kenyamananmu kepada dokter. Kamu tidak harus langsung merasa berani. Yang penting adalah mengambil langkah pertama. Dengan memahami cara mengurangi rasa takut ke dokter gigi, kamu bisa mendapatkan perawatan gigi dengan lebih tenang dan menjaga kesehatan gigi tanpa harus terus dihantui rasa cemas.


Bagikan Artikel Ini