Jadwal Buka : Setiap Hari Pagi: 06.00 - 13.00, Siang: 14.00 - 20.00

0263 513513

ARTIKEL

Beranda / Artikel

Dispepsia atau Maag? Kenali Perbedaannya!

Penyakit - 1 Jam Lalu Oleh Diaz

3 Kali Dibaca

Sering merasa perut perih, begah, mual, atau cepat kenyang setelah makan? Banyak orang langsung menyebut kondisi tersebut sebagai “maag”. Padahal, belum tentu. Ada kondisi lain yang memiliki gejala hampir mirip, yaitu dispepsia. Lalu, apa sebenarnya perbedaan dispepsia dan maag? Apakah keduanya sama atau justru berbeda? Yuk, Family, kita bahas pelan-pelan supaya nggak salah mengenali kondisi yang sedang dialami.

Secara sederhana, dispepsia adalah kumpulan gejala yang muncul di area perut bagian atas dan berhubungan dengan proses pencernaan. Keluhannya bisa berupa rasa tidak nyaman atau perih di ulu hati, cepat kenyang, mudah merasa penuh setelah makan, kembung, mual, hingga sendawa. Jadi, dispepsia lebih menggambarkan sekumpulan gejala, bukan selalu menunjukkan satu penyakit tertentu.

Sementara itu, istilah “maag” sebenarnya lebih sering digunakan masyarakat untuk menggambarkan berbagai keluhan pada lambung. Dalam dunia medis, keluhan yang disebut maag bisa berkaitan dengan beberapa kondisi, seperti gastritis atau peradangan pada lapisan lambung, penyakit asam lambung, tukak lambung, maupun dispepsia. Karena itulah, menyebut semua rasa tidak nyaman di perut sebagai maag belum tentu tepat.

Nah, salah satu perbedaan dispepsia dan maag yang perlu Family pahami adalah istilahnya. Dispepsia merupakan istilah medis untuk kumpulan gejala pada saluran pencernaan bagian atas, sedangkan maag merupakan istilah umum yang digunakan untuk menyebut keluhan pada lambung. Dengan kata lain, seseorang yang merasa “maag” belum tentu mengalami gastritis, dan keluhan dispepsia juga belum tentu disebabkan oleh peradangan lambung.

Gejala dispepsia bisa muncul dalam berbagai bentuk. Misalnya, baru makan beberapa suap tetapi sudah merasa kenyang, perut terasa penuh lebih lama dari biasanya, sering kembung, mual, atau muncul rasa panas dan tidak nyaman di ulu hati. Pada sebagian orang, keluhan bisa muncul sesekali. Namun, pada orang lain, gejala dapat berulang dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Penyebabnya juga beragam. Pola makan yang tidak teratur, makan terlalu banyak, terlalu cepat, atau terlalu sering mengonsumsi makanan yang memicu keluhan dapat membuat sistem pencernaan terasa tidak nyaman. Kebiasaan mengonsumsi makanan pedas atau berlemak juga dapat memperburuk gejala pada sebagian orang. Selain itu, stres dan kecemasan juga dapat berhubungan dengan munculnya atau memburuknya keluhan pencernaan.

Beberapa obat, terutama obat antiinflamasi nonsteroid atau NSAID, juga dapat menyebabkan iritasi pada lambung pada sebagian orang. Karena itu, jangan sembarangan mengonsumsi obat hanya karena merasa sedang “maag”. Obat yang cocok untuk satu orang belum tentu cocok untuk orang lain.

Lalu, bagaimana cara membedakan apakah keluhan yang dirasakan hanya gangguan pencernaan biasa atau membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut?

Family perlu memperhatikan pola dan lama keluhannya. Jika rasa tidak nyaman di perut hanya muncul sesekali setelah makan terlalu banyak atau mengonsumsi makanan tertentu, biasanya keluhan dapat membaik setelah pola makan diperbaiki. Namun, apabila keluhan terus berulang, semakin berat, atau mulai mengganggu aktivitas, sebaiknya jangan hanya mengandalkan obat maag yang dibeli sendiri.

Pemeriksaan oleh dokter dapat membantu mencari penyebab keluhan dengan lebih tepat. Dokter biasanya akan menanyakan gejala yang dirasakan, kapan keluhan muncul, pola makan, obat yang dikonsumsi, serta riwayat kesehatan. Jika diperlukan, dokter juga dapat merekomendasikan pemeriksaan tambahan untuk mengetahui apakah ada kondisi tertentu yang mendasari keluhan.

Ada beberapa tanda yang sebaiknya tidak diabaikan. Misalnya, muntah terus-menerus, muntah darah, buang air besar berwarna hitam, sulit atau sakit saat menelan, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, nyeri perut yang berat, atau keluhan yang terus memburuk. Jika mengalami tanda-tanda tersebut, sebaiknya segera mendapatkan pemeriksaan medis.

Untuk membantu mengurangi risiko munculnya keluhan pencernaan, Family bisa mulai dari kebiasaan sederhana. Cobalah makan secara teratur dengan porsi yang sesuai, makan perlahan, dan perhatikan makanan atau minuman apa yang biasanya memicu keluhan. Kurangi kebiasaan langsung berbaring setelah makan dan usahakan mengelola stres dengan baik. Jika memiliki kebiasaan mengonsumsi obat tertentu secara rutin, konsultasikan penggunaannya dengan dokter.

Yang tidak kalah penting, jangan terbiasa mendiagnosis diri sendiri hanya berdasarkan gejala. Rasa perih di ulu hati memang sering dikaitkan dengan maag, tetapi penyebabnya bisa bermacam-macam. Dengan mengetahui kondisi yang sebenarnya, penanganan yang diberikan juga bisa lebih sesuai.

Jadi, sekarang sudah lebih jelas, Family? Perbedaan dispepsia dan maag terletak pada istilah dan cakupan kondisinya. Dispepsia merupakan kumpulan gejala pada pencernaan bagian atas, sedangkan maag adalah istilah umum yang sering digunakan untuk berbagai keluhan lambung. Kalau keluhan perut sering kambuh atau mulai mengganggu aktivitas, jangan cuma ditebak-tebak. Yuk, konsultasikan dengan dokter agar penyebabnya bisa diketahui dan mendapatkan penanganan yang tepat.

Untuk informasi medis yang lebih lengkap mengenai dispepsia, Family juga bisa membaca penjelasan dari National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) dan Mayo Clinic – Indigestion (Dyspepsia).


Bagikan Artikel Ini